Di Guinea-Bissau, terdapat dua musim yang jelas, yaitu musim kering dan musim hujan, yang berkembang erat dengan tradisi dan budaya. Berikut adalah ringkasan karakteristik iklim dan acara budaya utama setiap musim.
Musim Semi (Maret–Mei)
Karakteristik Iklim
- Maret–April: hampir memasuki musim kering dengan sedikit curah hujan, suhu rata-rata sekitar 24–30℃ (Wikipedia)
- Mei: awal musim hujan, curah hujan mulai meningkat secara bertahap
Acara Utama & Budaya
Bulan |
Acara |
Konten & Hubungan dengan Iklim |
Maret |
Karnaval Bissau |
Perayaan selama tiga hari dengan topeng dan drum di bawah cuaca cerah yang stabil di tengah musim kering. (Majalah 54) |
April |
Paskah |
Acara keagamaan penting bagi umat Kristiani. Kebaktian diadakan dalam cuaca yang tenang di musim kering. |
Mei |
Festival Panen Kacang Mete |
Merayakan puncak panen kacang mete, produk ekspor utama negara. Diadakan pada saat peralihan dari musim kering ke musim hujan. |
Musim Panas (Juni–Agustus)
Karakteristik Iklim
- Juni–September: awal musim hujan dengan peningkatan curah hujan yang tajam, sebagian besar curah hujan tahunan (sekitar 2000mm) terkumpul (Wikipedia)
- Suhu berkisar antara 25–28℃ dengan kelembapan tinggi
Acara Utama & Budaya
Bulan |
Acara |
Konten & Hubungan dengan Iklim |
Juni |
Festival Menanam Padi |
Upacara merayakan dimulainya penanaman padi berkat curah hujan yang melimpah di awal musim hujan. |
Juli |
Tabanka (Festival Tradisional) |
Perayaan tradisional di setiap desa. Dilaksanakan di sela-sela musim hujan, berdoa untuk hasil panen melalui tarian dan lagu. |
Agustus |
Festival Peringatan Pijigiti |
Mengenang pemogokan pelabuhan Pijigiti pada tahun 1959. Dilaksanakan dengan khidmat di tengah musim hujan yang sering disertai petir. |
Musim Gugur (September–November)
Karakteristik Iklim
- September: puncak musim hujan
- Oktober–November: curah hujan mulai menurun dan pada akhir November hampir beralih ke musim kering
Acara Utama & Budaya
Bulan |
Acara |
Konten & Hubungan dengan Iklim |
September |
Hari Kemerdekaan |
24 September. Merayakan kemerdekaan dengan parade militer dan kembang api di tengah cuaca mendung dan hujan akhir musim hujan. (Wikipedia) |
Oktober |
Festival Doa untuk Leluhur |
Upacara penghormatan tradisional untuk leluhur. Menunjukkan penghormatan di pemakaman desa di tengah kelembapan musim hujan yang tersisa. |
November |
Hari Semua Orang Kudus |
Hari raya gereja Katolik. Ziarah gereja dan kunjungan ke makam dilakukan dalam cuaca yang stabil sebelum memasuki musim kering. |
Musim Dingin (Desember–Februari)
Karakteristik Iklim
- Desember–Mei tahun berikutnya: musim kering dengan hampir tidak ada curah hujan, angin harmattan (angin kering dengan debu pasir) dari timur laut bertiup
- Suhu berkisar antara 20–30℃ sepanjang tahun
Acara Utama & Budaya
Bulan |
Acara |
Konten & Hubungan dengan Iklim |
Desember |
Natal |
Dimeriahkan di bawah cuaca cerah yang kering dengan misa gereja dan perayaan bersama keluarga. |
Januari |
Festival Tahun Baru |
Acara untuk merayakan kedatangan tahun baru. Banyak hari cerah akibat harmattan, sangat cocok untuk acara di luar ruangan. |
Februari |
Persiapan Karnaval Bissau |
Persiapan pembuatan topeng dan latihan tari sudah mulai dilakukan menjelang karnaval bulan depan, sesuai dengan akhir musim kering. |
Ringkasan Hubungan Antara Acara Musiman dan Iklim
Musim |
Karakteristik Iklim |
Contoh Acara Utama |
Musim Semi |
Akhir musim kering–awal musim hujan |
Karnaval, Paskah, Festival Panen Kacang Mete |
Musim Panas |
Awal musim hujan–peningkatan curah hujan |
Festival Menanam Padi, Tabanka, Festival Peringatan Pijigiti |
Musim Gugur |
Akhir musim hujan–penurunan curah hujan |
Hari Kemerdekaan, Festival Doa untuk Leluhur, Hari Semua Orang Kudus |
Musim Dingin |
Musim kering–tanpa curah hujan |
Natal, Festival Tahun Baru, Persiapan Karnaval |
Catatan Tambahan
- Festival Panen Kacang Mete adalah acara utama yang mendukung ekonomi daerah dan memiliki keterkaitan yang erat dengan pasar internasional.
- Festival Peringatan Pijigiti merupakan acara sejarah penting yang memperingati gerakan perlawanan pada masa penjajahan untuk generasi selanjutnya.
- Angin harmattan di musim kering adalah elemen alami yang tidak bisa dipisahkan dalam acara tradisional.
Di Guinea-Bissau, perubahan iklim musiman sangat mempengaruhi budaya dan acara, serta tradisi yang sejalan dengan ritme kehidupan masyarakat.